Di tengah keberagaman bangsa, toleransi bukan sekadar kata sifat, melainkan fondasi utama untuk menjaga keutuhan. Sebagai generasi penerus, memahami konsep toleransi baik secara internal maupun antarumat beragama adalah kunci menciptakan kehidupan yang harmonis.
Mari kita bedah lebih dalam mengenai prinsip dan praktik toleransi dalam Islam berdasarkan sumber materi pendidikan (Bab 8).
1. Apa Itu Toleransi?
Secara mendasar, toleransi dalam Islam dikenal dengan istilah Tasāmuḥ.
- Secara Bahasa: Berasal dari kata samaḥa yang berarti mengizinkan atau memperbolehkan.
- Secara Istilah: Sikap menghormati hak orang lain, bersikap terbuka, dan mengakui perbedaan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan).
- Landasan Hadis: Rasulullah saw. menegaskan bahwa agama yang paling dicintai Allah adalah al-ḥanīfiyyah al-samḥah (agama yang lurus lagi toleran).
2. Prinsip Kebebasan Beragama dalam Islam
Islam adalah agama yang memberikan kemerdekaan berpikir dan berkeyakinan. Berikut prinsip utamanya:
- Tanpa Paksaan: Berdasarkan Q.S. al-Baqarah/2: 256, keimanan harus lahir dari ketulusan hati dan akal, bukan tekanan.
- Tugas Dakwah: Umat Islam bertugas menyampaikan kabar gembira dan peringatan, bukan memaksa orang lain berpindah keyakinan.
- Batasan Jelas: Toleransi bukan berarti mengakui semua agama benar, melainkan menghargai hak setiap orang untuk menjalankan keyakinannya.
3. Bentuk-Bentuk Praktik Toleransi
Toleransi dibagi menjadi dua ranah utama:
A. Toleransi Antarumat Beragama
- Mengakui Sunnatullah: Menyadari bahwa perbedaan adalah kehendak Allah Swt.
- Menjaga Lisan & Simbol: Dilarang menghina tuhan atau simbol agama lain demi menjaga kedamaian.
- Muamalah (Kerjasama Sosial): Bekerja sama dalam bidang kemanusiaan dengan tetap memegang prinsip "Lakum dinukum waliyadin" (bagiku agamaku, bagimu agamamu).
B. Toleransi Intern Umat Beragama
Sesama Muslim harus menjaga Ukhuwwah Islāmiyyah dengan cara:
- Mendamaikan perselisihan.
- Menghindari sikap saling mencela atau memanggil dengan julukan buruk.
- Menjauhi prasangka buruk (su’udzon) dan ghibah.
- Saling mengenal (ta’aruf).
4. Jejak Sejarah: Bukti Toleransi Islam
Toleransi bukan sekadar teori, sejarah mencatat banyak bukti nyata:
- Nabi Muhammad saw.: Membiarkan rombongan Nasrani Najran beribadah di Masjid Nabawi dan tetap menghormati mertuanya yang beragama Yahudi.
- Masa Kekhalifahan: Sultan Muhammad al-Fatih menjamin keamanan umat Kristen saat menaklukkan Konstantinopel.
- Di Indonesia: Kebesaran hati pemimpin Islam yang menghapus tujuh kata di Piagam Jakarta demi persatuan bangsa.
5. Menjadi Pelajar Pancasila yang Toleran
Sebagai penutup, berikut adalah langkah nyata yang bisa dilakukan oleh para pelajar:
- Menghormati segala bentuk keragaman di sekolah dan lingkungan.
- Berani menolak perilaku intoleransi dan ujaran kebencian (hate speech).
- Aktif bergotong royong tanpa memandang latar belakang agama.
Semoga materi ini bermanfaat dan bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memupuk rasa persaudaraan.
Posting Komentar untuk "Kelas 8 BAB 8 Menjadi Generasi Toleran Membangun Harmoni"